Berita Prostitusi Artis

12 Dec 2015

Tertangkapnya Nikita Mirzani terkait kasus prostitusi artis mengalihkan perhatian media mainstream dari kasus Mahkamah Kode Etik Setya Novanto (MKD) ke kasus prostitusi artis. Berita prostitusi artis tersebut langsung menghiasi headline media cetak dan online menggeser isu-isu lain. Media online langsung mengangkatnya sebagai topik pilihan, topik berita berseri yang layak menjadi sorotan. Contohnya saja kompas.com mengangkatnya sebagai liputan khusus, namun katagori beritanya masuk ke kantong entertainment. Secara tak tersirat kompas dot com ingin mengatakan isu prostitusi artis akan menjadi trend pemberitaan media namun isu tersebut sebenarnya bukan isu utama sehingga dikatagorikan ke rubrik entertainment.

Media massa membuat isu begitu cepat beralih, belum terkupas tuntas pembahasan MKD yang isu sebenarnya bermuara pada ketegasan penyelesaian Freeport. Kini beralih dengan cepat ke isu prostitusi artis, semua media massa terlihat kompak dan seragam. Penguasa media massa sangat sadar, media sebagai corong dan pembentuk realitas tunggal. Realitas kebenaran dengan sangat mudah dibentuk dan diciptakan media massa. Pembaca kritis tentunya tak akan puas membaca masalah sosial dari media massa mainstream. Banyak diantaranya melirik ke blog, forum atau media non mainstream lainnya. Hal ini nampak beredarnya hasil sharing bacaannya ke media sosial seperti facebook, twitter, whatapps, bbm dan lainnya. Salah satu isi dari hasil sharing bacaan tentang ketidak percayaan harga prostitusi artis yang setinggi langit, berikut penggalan kutipannya:

“… Kalo lu gak percaya sm testimoni gue. Mending lu coba sendiri lah. Jangan percaya orang bilang mahal-mahal.. Kalo lu ga mampu bayar.. Gue bayarin jg gw ikhlas koq. Kalo lo senang kan pahala juga buat gw. Ini price list nya: NM: Nangka Muda: Sekilo 5 rb PR: Pisang Rebus- 2 biji 2 rb”

Meski dalam bahasa sehari-hari media mainstream berupaya membuat cerita-cerita kecil yang mengimbangi cerita-cerita besar media mainstream. Nah! Jangan dulu bilang paham realitas dalam hal ini prostitusi artis kalau belum baca blog ya! Blog atau media non mainstream lainnya memang lahir untuk memahami realitas sebenarnya dibalik berita mainstream. Semoga tetap terus bertahan sedemikian adanya. Narasi-narasi kecil dari blog penting dibaca akan kita tak tersesat atau terjebak pada realitas semu, bahasa kerennya simulacra.

Untuk mengungkap realitas semu yang dihembuskan media mainstream, ada baiknya saya mulai dari topik yang sedang tren diberitakan yakni prostitusi artis. Pertanyaan awal saya adalah layakkah prostitusi artis dijadikan headline bertita di tengah carut marut buruknya layanan publik dan korupsi di negeri kita? Jawaban dari nurani saya mengatakan tidak layak. Berita tersebut memang dipaksa harus menjadi arus utama dalam berapa minggu ke depan. Salah satu indicator saya berapa media besar menjadikan headline dan topic pilihan. Data dari kompas, prostitusi artis menjadi berita pilihan dan menempatkannya sebagai rubrik entertaimen adalah salah satu bukti kalau berita prostitusi artis harus menjadi arus utama.

Skenario berita prostitusi artis akan nampak sangat jelas bila dikaitkan dengan siding mucikari obbie yang sering disingkat dengan inisial O oleh media. Pengakuan O Nikita Mirzani (NM) disebut sebagai bagian dari bisnisnya. Pertanyaannya kenapa NM tidak dipanggil saja untuk diperiksa tanpa harus membuat scenario penangkapan oleh polisi dengan menangkap tangan NM yang sedang melacur dengan petugas. Seolah tak mau kalah dengan KPK yang seringkali berhasil menangkap tangan koruptor. Capek-capek menjebak dan menyadap hasilnya toh sebagai saksi juga untuk dihadirkan kepersidangan sang mucikari O. Taka da pasal yang bisa menjerat NM dengan praktek prostitusinya. Al hasil mengantarkan NM ke panti sosial dan usulan yang mengelitik dari Khofifah agar NM dimasukan pesantren saja.

Berita protistusi NM terlihat sangat dipaksakan dan berhasil menutupi isu-isu lain yang lebih penting. Salah satu buktinya adalah foto-foto penangkapan yang telah disiapkan pihak tertentu yang dirilis oleh media dengan menulis sumber foto dengan tulisan istimewa. Foto nikita mirzani sedang menggunakan telpon genggam di ruang pemeriksaan polisi dan foto narsis polisi bersama nikita mirzani mengungkapkan semua hal ini. Foto memang banyak data sedikit kata.

Peristiwa yang meruang dan mewaktu bisa digunakan sindiran-sindiran yang sinis terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Sekedar melawan lupa, narasi hukum yang digunakan MKD dalam menolak rekaman sudirman said sebagai bukti yang tak sah karena bukti rekaman adalah hasil penyadapan. Narasi hukum untuk Nikita Mirzani berkata lain, menangkap pelacur wajib dilakukan dengan penjebakan dan penyadapan. Lucunya negeri ini, masalah etik selalu dibawa ke narasi hukum. Tentunya, jawaban selanjutnya akan mudah tertebak, hukum digunakan agar bisa tetap eksis dalam memegang kekuasaan atau profesinya.


TAGS peristiwa Hiburan


-

Author

twitter @ahmadzainul

Follow Me