Feminis Poskolonial

13 Sep 2013

Dasar pandangan feminis poskolonial ini berakar di penolakan universalitas
pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Kelahiran feminis poskolonialis juga tak bisa adilepaskan dari konteks sejarah berakhirnya perang dunia kedua, ditandai dengan lahirnya negara-negara baru yang terbebas dari penjajah Eropa, lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut mendiami ranah politik kenegaraan.
Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene
Cixous (seorang Yahudi kelahiran Algeria yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida. Dalam The Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo- American-Feminist, dia menolak esensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida.


Kaum feminis kontemporer menaruh perhatian tertentu sehingga membedakannya dari kalangan non-feminis dan feminis awal. Perhatian ini mengandung makna bahwa terdapat “pembagian kerja” sehingga segelintir feminis menjawabnya dengan perlawanan politik dan yang lain dengan cara lain pula.30 Sebagian feminis bekerja dalam wilayah
perhatian yang umum dan lainnya aktif di kelompok kiri atau pengorganisasian massa. Beberapa di gerakan kulit hitam dan lesbian. Berbagai pekerjaaan dan pengalaman hidup kaum feminis kontemporer menghasilkan aneka persepsi tentang realitas sosial dan penindasan perempuan. Keanekaragaman ini merupakan sumber kekuatan bagi gerakan pembebasan perempuan.
Gelombang awal feminisme kadang dilihat melalui refleksi atas pengalaman
perempuan kulit putih dari kalangan menengah ke atas. Perempuan kulit putih kelas menengah itu ditonjolkan secara kuat dalam gerakan perempuan kontemporer. Namun, perspektif ini ditantang oleh pandangan feminis poskolonialis yang mencerminkan pengalaman yang sangat berbeda dari perempuan kulit berwarna, perempuan kelas pekerja, dan sebagainya. 31 Pengalaman yang sangat kaya dan beraneka ragam di kaum feminis poskolonial memberikan pandangan segar atas masalah penindasan terhadap perempuan dan menyajikan perspektif dan pernilaian baru bagi gerakan pembebasan perempuan.
Secara lebih spesifik, banyak feminis-individualis kulit putih — meskipun tidak semua
– mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga. Meliputi Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Dalam berbagai penelitian tersebut, telah terjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial, agama, ras dan budaya. Sebagai reaksi atas universalisme ini Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yang identik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme. Mohanty membongkar beberapa peneliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek. Dan Bell Hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-female dalam kelahirannya.
Banyak kasus menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Dengan apropriasi bahwa semua perempuan adalah sama. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putih yang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam, yaitu: tidak adanya representasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Penggambaran pejuang feminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih.
Femisis poskolonial meyakinkan dunia bahwa perempuan dunia ketiga tersub-ordinasi atas faktor berlapis; patriarki, kapitalisme, penjajahan fisik, hingga di dalam bahasa dan aktualisasi intelektualitas. Berabad lamanya, perempuan di dunia ketiga tenggelam sebagai sub-altern yang tidak memiliki politik agensi selama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Selama sebelum PD II, banyak pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki saja. Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis dari kalangan pendidikan, politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. Pada era itu kelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Tetapi perempuan dunia ketiga masih dalam kelompok yang bisu.
Dengan keberhasilan gelombang kedua ini, perempuan dunia pertama melihat bahwa
mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga, dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Dengan asumsi ini, perempuan dunia ketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi, rasisme, seksisme, dan relasi sosial.


Kecenderungan feminisme liberal yang selalu melihat perempuan sebagai makhluk lemah tak berdaya dan korban laki-laki ini, tidak dapat diterima oleh perempuan-perempuan muda di beberapa negara maju. Retorika feminisme yang melekat pada ibu-ibu mereka terutama di tahun 70-an di daratan Amerika dan Inggris telah membuat generasi muda
bosan dengan feminisme. Feminisme seolah-olah menjadi ukuran moralistik dan politik seseorang dan menjadi pergerakan kaum histeris, serta sangat mudah untuk menuduh dan melabeling seseorang dengan atribut tidak feminis. Kelompok-kelompok perempuan muda yang kritis inilah yang kemudian memperjuangkan apa yang disebut feminis pos- kolonialis.
Secara kritis, kelompok feminis pos-kolonial ini melihat teks-teks ketertindasan perempuan dalam berbagai ranah. Selain itu kelompok ini tidak menekankan pada kesetaraan
(equality) seperti kelompok liberal, yaitu identitas dan gender, tetapi lebih menekankan pada
perbedaan yang tak diskriminatif. Di sini dapat dipahami bila aliran ini membawa paradigma baru dalam feminisme, dari perdebetan seputar kesetaraan ke perdebatan seputar perbedaan.
Lebih jauh lagi, menurut Carol Gilligan, penekanan laki-laki terhadap keterpisahan dan otonomi mengarahkan mereka untuk mengembangkan suatu gaya penalaran moral (dan
pemikiran) yang menekankan pada keadilan, ketidakberpihakan dan hak. Sebaliknya, penekanan perempuan pada hubungan dan keterkaitan mngerahkan mereka untuk
mengembangkan gaya penalaran moral (dan pemikiran) yang menekankan pada keinginan, kebutuhan, dan kepentingan dari sekelompok orang tertentu.
Berhipotesis bahwa gaya moral perempuan tidak lebih valid dari gaya moral laki-laki
(pandangan khas feminis awal), Gilligan mengklaim bahwa karena kebanyakan ahli dalam
teori perkembangan moral telah secara keliru menggunakan norma laki-laki sebagai norma manusia yang digunakan untuk mengukur perkembangan moral perempuan dan laki-laki, kebanyakan ahli itu (menurut Gilligan) telah secara keliru menyimpulkan bahwa secara moral perempuan kurang berkembang dibandingkan laki-laki. Hal tersebut bukanlah merupakan suatu realitas. Gilligan berargumen bahwa bukan perempuan yang harus diubah, melainkan
standar yang digunakan untuk menilai perkembangan perempuan sebagai manusia moral.35


TAGS


-

Author

twitter @ahmadzainul

Follow Me