Kritik Atas Teori Feminis Liberal

11 Sep 2013

Mengapa mulai dari feminis liberal? Ini adalah pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum beranjak ke pemikiran feminis yang lebih njlimet. Peneliti memilih membuka kembali ingatan pada teori ini, sebab dari teori feminis liberal inilah sebagian besar teori feminis kontemporer berpijak. Feminis kontemporer seringkali mendefinisikan diri sebagai reaksi kritis terhadap feminisme liberal. Pun dalam konteks Indonesia, pemikiran liberal ini tak hanya sebagai pijakan kritis, melainkan hingga saat ini masih mendapatkan

20 Sesungguhnya penulis tidak terlalu nyaman menggunakan istilah Barat, karena itu memuat intensi
tendensius yang mengkotak-kotakkan epistemologi pengetahuan (Barat Timur), atau lebih jauh lagi mengandung upaya penjajahan epistemologis Barat atas Timur (yang liyan). Namun demikian, penulis merasa perlu menggunakan istilah Barat ini untuk sekedar memudahkan penyebutan. Bagi penulis, istilah Barat ini hanya mewakili dan merujuk pada letak geografis, tak lebih.

tempat yang strategis sebagai alat perjuangan, khususnya dalam mendorong keterlibatan perempuan di ranah politik.
Secara deskriptif, apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Seperti lazimnya teori liberal ekonomi,21 aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan antara sesama manusia (laki-laki/perempuan) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Lebih lanjut teori ini menjelaskan, bahwa setiap manusia sesungguhnya memiliki kapasitas nalar untuk berpikir dan bertindak secara rasional, pun pada laki-laki, begitu pula pada perempuan.
Secara ringkas, kalangan feminis liberal menyimpulkan bahwa akar ketertindasan dan keterbelakangan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Mereka tidak berupaya untuk terlibat pada sektor publik yang produktif. Sehingga, menurut perspektif liberal, perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Salah satu tokoh terkemuka dari aliran ini adalah Naomi Wolf. Dia menekankan kepada perempuan untuk …. percaya pada diri sendiri, apapun keyakinan mereka, untuk masuk ke ruang debat publik. Tingkat ini menuntut agar dunia membuka pintu bagi semua perempuan tanpa pandang bulu, persis seperti apa yang dilakukan oleh laki-laki, perempuan
harus bebas untuk mengeksploitasi atau menyelamatkan; memberi atau menerima; membangun atau menghancurkan.
Feminisme liberal berupaya untuk menyadarkan setiap perempuan bahwa mereka adalah golongan yang tertindas oleh laki-laki. Ketertindasan ini dimulai pada saat muncul fase domestifikasi dalam sejarah peradaban manusia. Pada fase ini, pekerjaan yang dilakukan perempuan di sektor privat (domestik) dikampanyekan oleh laki-laki sebagai hal yang tidak produktif, yang ujungnya adalah menempatkan perempuan pada posisi sub-ordinat atas laki- laki. Kondisi inilah yang menjadi ancangan feminis liberal untuk untuk segera ditangani, yakni: membebaskan perempuan dari belenggu sektor privat.
Lalu berkembang pesatlah feminis liberal, yang mula-mula berhasil mendorong perempuan-perempuan di sektor publik dan di sisi lain berhasil pula menekan tindakan- tindakan diskriminasi terhadap perempuan, baik itu pelecehan seksual maupun kekerasan fisik/psikis. Naomi Wolf adalah satu dari sekian feminis Amerika yang ada di balik keberhasilan ini. Keberhasilan Wolf dan kalangan feminis liberal dalam mengkampanyekan pentingnya keterlibatan perempuan di ruang publik sekaligus memangkas ketergantungan perempuan atas laki-laki berkembang subur di Amerika, karena terdongkrak oleh semangat dan budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualisme Amerika sangat mendukung keberhasilan feminisme liberal. Perempuan pada akhirnya berhasil tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada laki-laki.

Dalam bukunya Pengantar Komperehensif Teori-teori Feminis Kontemporer, Rosemarie Putnam Tong menyebut bahwa berbagai macam teori feminis: liberal, Marxis, Sosialis, Pos-Kolonialis, dll tidaklah senantiasa mencerminkan paradigma Bapak Keilmuannya (dengan kata lain, Tong ingin mengatakan bahwa ada keterpisahan epistemologi antara teori liberal dengan teori feminis liberal). Namun demikian, dalam hal ini penulis agak tidak bersepakat dengan Tong. Bagi penulis, tiap kategori pemikiran feminis, senantiasa mengacu secara utuh pada akar epistemologis teori semangnya, dalam hal ini feminis liberal tetaplah anak kandung dari teori liberalis ekonomi yang salah satunya digagas oleh Adam Smith, yang penekanannya lebh pada aspek kebebasan individual untuk memangkas ketimpangan gender di masyarakat.

Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu goal dari gerakan ini berkembang dari tiap jaman, karena tujuannya adalah optimalisasi segenap fungsi manusia. Di dalam tata sosial yang adil dan peduli pada kebebasan manusia-lah, perempuan (maupun laki-laki) dimungkinkan untuk mengembangkan seluruh sumberdaya personal yang dimilikinya.24 Pada abad-18 muncul tuntutan agar perempuan mendapat pendidikan yang sama dengan laki-laki, di abad-19 lahir upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan di sektor publik, dan di abad-20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Di Amerika sendiri, feminis liberal mencapai puncaknya pada awal 1990-an tatkala Bill Clinton (yang terkenal pro-feminis) terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.25 Ketika itu ruang-ruang politik menjadi sangat permisif bagi perempuan, terutama terlihat dari betapa populernya sosok seorang Hillary Clinton yang mempersepsikan diri sebagai perempuan mandiri.26

Namun demikian, aliran feminis ini masih menyisakan beberapa kelemahan yang justru menjadi bumerang bagi gerakan feminis di kemudian hari. Dua diantaranya yang sangat menonjol adalah: pertama, karena basis empirik aliran liberal ini adalah perempuan Barat, maka subyek dari gerakan ini adalah perempuan kulit putih (white), sementara hak sosial politik perempuan kulit hitam/berwarna belum tersentuh. Ini adalah khas cara pandang keilmuan Barat yang senantiasa bias Timur, seperti lazimnya perkembangan filsafat dan epistemologi modern lainnya.
Kedua, seperti kritikan banyak orang, keterlibatan perempuan di ranah publik adalah sebuah prestasi yang kemudian justru membebani perempuan sendiri. Karena perdebatan dan kontradiksi peran privat-publik/produktif-reproduktif belum terselesaikan dengan baik oleh teori liberal, perempuan justru terjebak pada peran ganda di masing-masing ruang.

Kritik lain yang disampaikan Jean Bethkel Elshtain, 27 terdapat tiga kesalahan mendasar teori feminis liberal (1) klaimnya bahwa perempuan dapat menjadi laki-laki jika mereka men-set pemikirannya untuk itu; (2) klaimnya bahwa kebanyakan perempuan ingin menjadi seperti laki-laki, dan (3) klaimnya bahwa semua perempuan seharusnya ingin menjadi laki-laki, dan meninggikan nilai-nilai maskulin.

Menurut Elshtain, dengan klaim tersebut, feminis liberal berusaha memungkiri bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan adalah produk natural. Mereka khawatir, jika perbedaan seksual adalah natural, itu akan menjadi dasar opresi laki-laki terhadap perempuan. Namun di sisi lain, feminis liberal masih menganggap rasionalitas adalah yang utama dan seyogyanya perempuan menuju ke arah itu. Dengan bahasa lain, rasionalitas itu ada pada laki-laki dan perempuan diharapkan menjadi seperti laki-laki. Ini dipertajam dengan kritik Alison Jaggar, bahwa karena feminis liberal menempatkan keistimewaan manusia pada rasionalitas dan otonomi manusia, keduanya disebut sebagai dualis normatif. Lebih lanjut Jaggar menjelaskan bahwa kepatuhan feminisme liberal terhadap dualisme normatif adalah sesuatu hal yang problematik, bukan saja karena hal itu menggiring pada devaluasi kegiatan dan fungsi ragawi, melainkan juga menggiring pada solipsisme dan skeptisisme politik.

Dalam konteks Indonesia, pengaruh feminisme liberal ini bisa dengan mudah kita telusuri jejaknya dalam ranah intelektual maupun politik praktis. Pasca reformasi 1998, masuklah berbondong-bondong pengaruh feminisme liberal ini melalui berbagai NGO Asing (seperti disebut penulis di depan), maupun para aktivis feminis Indonesia yang menimba ilmu di Eropa maupun Amerika atau Australia, yang kental mengusung paradigma liberal. Lalu terbitlah buku/diktat di kampus-kampus yang mulai memperkarakan gender dari perspektif minimnya keterlibatan perempuan di sektor publik, terutama aras politik praktis. Salah satu dampak yang paling nyata dari berkembangnya semangat feminis liberal itu adalah bergulirnya reformasi hukum yang berprerspektif keadilan gender melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen, meski kemudian hanya diakomodir oleh Undang- undang Pemilu sebatas 30% kuota di dalam Daftar Calon Sementara (DCS) masing-masing Parpol peserta Pemilu.

Menurut penulis, konsep terpenting dalam teori feminis liberal yang senantiasa relevan (dengan segala perdebatannya) hingga saat ini adalah urgensi keterlibatan perempuan dalam ruang publik. Pembacaan atas konsep keterlibatan ini tidaklah semata individual sebatas terlibat dalam usaha produktif melainkan lebih dari itu adalah keterlibatan dalam proses regulatif, penatakelolaan negara sebagai penanggung hajat hidup masyarakat.


TAGS


-

Author

twitter @ahmadzainul

Follow Me